Manusia dan Kebudayaan

Posted: Desember 29, 2009 in Kebudayaan

A. Manusia dan Kebudayaan

E.B Taylor pada tahun 1871 dalam bukunya primitive culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan caranya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan Kuntjaraningrat (1974) membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem, dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian.

Ketidakmampuan manusia untuk bertindak instinktif diimbangi oleh kemampuan lain yakni kemampuan untuk belajar, berkomunikasi. Kemampuan untuk belajar ini dimungkinkan oleh berkembangnya intelegensi dan cara berpikir simbolik. Manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan hidup yang dasar, inseting, perasaan, pikiran, dan kemauan. Budi inilah yang menyebabkan Manusian mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitar.

B. Kebudayaan dan Pendidikan

Nilai-nilai budaya yang disampaikan oleh proses pendidikan bukan nilai-nilai budaya yang diperlukan oleh anak didik kita kelak dimana dia akan dewasa dan berfungsi dalam masyarakat melainkan nilai-nilai konvensional yang sekarang berlaku dialami dan dipraktekkan oleh orang tua dan guru mereka. Dari pernyataan tersebut kita harus dapat menghasilkan indikator dan perkembangan yang sekarang ada untuk mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  1. Memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional
  2. Pengembangan kebudayaan diajukan kea rah perwujudan peradaban yang bersifat khas

Masyarakat modern bertumpu kepada ilmu dan teknologi sebagai landasan utamanya. Sedangkan masyarakat tradisional yang berorientasi kepada status akan beralih menjadi masyarakat modern. Pengembangan kebudayaan nasional mencerminkan aspirasi dan cita-cita Bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan filsafat dan pandangan hidup merupakan dasar bagi pengembangan peradaban.

Albert Einstein mengungkapkan hakikat hidup adalah “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah hampa”.

C. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada satu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan di pihak lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya budaya. Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur sosial dan tradisi kebudayaan.

Dalam pengembangan kebudayaan nasional, ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengikuti pembentukan watak suatu bangsa.

Ilmu sebagai suatu cara berpikir

Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berpikir ilmiah. Dari hakikat berpikir ilmiah, maka karakteristik dari ilmu adalah :

  1. Mempunyai rasio
  2. Alur jalan pikiran yang logis dan konsisten
  3. Pengujian secara empiris
  4. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi
  5. Ilmu sebagai moral

Ilmu merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran dan pengabdian secara universal.

D. Dua Pola Kebudayaan

C.P. Snow dalam bukunya The Two Cultures, ada dua pola kebudayaan dalam tubuh mereka, yakni masyarakat ilmuan dan non-ilmuan. Dalam bidang keilmuan, di Negara kita telah mengalami polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri. Polarisasi ini didasarkan kepada kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan, yakni ilmu alam dan ilmu sosial.

Ilmu sosial mengalami dua masalah, yaitu sukarnya melakukan pengukuran aspirasi atau emosi seorang manusia, banyaknya variable yang mempengaruhi tingkah laku manusia.

Masalah ini menyebabkan ilmu alam relative maju dalam analisa kuantitatif dibandingkan ilmu-ilmu sosial. Sekiranya teori ilmu-ilmu sosial merupakan alat bagi manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi, seperti juga ilmu-ilmu alam. Secara sosiologi terdapat kelompok yang memberi napas baru kepada ilmu-ilmu sosial, yaitu ilmu-ilmu perilaku manusia  yang bertumpu kepada ilmu-ilmu sosial tentang manusia menjadi sesuatu yang lebih dapat diandalkan dan kuantitatif.

Pembangkitan jurusan berdasarkan pasti alam dan sosial budaya harus dihilangkan. karena hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di Negara kita. Hal ini akan menyebabkan mereka yang mempunyai minat dan bakat baik di bidang ilmu-ilmu sosial akan terbujuk memilih jurusan ilmu-ilmu alam karena alas an-alasan sosial psikologis.

Komentar
  1. Mr WordPress mengatakan:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s